Asdfghjkl

Minggu, 15 Juli 2012

Pfftttt...........

Yap sekarang liburan sekarang udah abis, alhamdulillah liburannya gak ngebosenin berkat Yanda&Bunda&Om&Tante&Sodara-sodara&Teteh&Temen-temen makasih ya buat semuannya hehehehe. Liburan berakhir artinya besok gue masuk sekolah,mesti bangun pagi,mesti sarapan,mesti les-les lagi,mesti ngadepin tugas&ulangan lagi,dan gue jadi anak kelas 9 gitu?pffffftttt.

Jujur gue gaada semangat-semangatnya, besok semua nya berubah besok gue harus ngadepin situasi baru gue. Apa boleh buat gue harus ngejalanin itu semuanya. Mungkin semuanya bakal berubah 90derajat.Okelah Bismillah gue bisa ngejalanin situasi baru gue nanti dan semoga nanti gue ngerasa nyaman sama semuanya. Semangat Feb!\m/

Rabu, 11 Juli 2012


“You can't look back - you just have to put the past behind you, and find something better in your future.” 

"I'm strong cause I know my weaknesses. I'm alive because I'm a fighter. I'm wise because I've been foolish. I laugh because I've known sadness."

"All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them."

-Walt Disney-



“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” 


 Albert Einstein

Situasi Baru

GUE-JADI-ANAK-KELAS-9. Jujur, gue ga seneng ataupun bangga sama sekali dengan status gue yang jadi anak kelas 9 justru gue malah kebalikan dari itu. Sisi lain ada kebanggaan dari diri sendiri karena gue naik kelas&mendapatkan rangking yang alhamdulillah memuaskan, tapi?sisi lain gue gak siap banget. Ada beberapa faktor yang buat gue gak siap, yang pertama gue belum siap ngadepin UN nanti, kedua test SMA juga gue ga siap, ketiga gue udah nyaman sama temen-temen&dunia gue di kelas 8 dan gue gak siap buat ngerubah itu, keempat gue mesti belajar keras di kelas 9 dan gue ga boleh leha-leha, kelima..............................................gue gak siap kehilangan sosok penyemangat gue buat kesekolah. Dia, iya dia yang selama ini penyemangan gue buat ke sekolah, sekarang dia udah gak ada di sekolah dan gue kehilangan dia. Huh jujur, gue gamau pisah ya tapi apa boleh buat deh.

Berkali-kali gue ngomong ketemen-temen gue, gue itu seneng di kelas 8 dan gue gamau jadi anak kelas 9. Tapi gue ngomong itu juga sia-sia lah ga akan bisa ngerubah semuanya. Hidup gue ga akan bisa mundur, hidup itu maju kedepan ya jadi sebisa mungkin gue nikmatin semuanya. SE-MU-A-NYA:-}

Ya kalau boleh&bisa pun gue mau putar waktu dan ngulang semua kejadian-kejadian di kelas 8, tapi itu konyol ga akan bisa. Jadi, sekarang gue cuma bisa nyoba ikhlas dengan situasi baru gue yang sebentar lagi akan dimulai.

Selasa, 10 Juli 2012

Izinkan Aku


Aku tidak pernah lelah mengguratkan pena kisah kita bertintakan kenangan.
Aku tidak percaya bahwa tidak ada yang abadi, mungkin cintamu iya.
Aku tidak mengerti apa yang akhirnya mendorongku untuk menetapkan hati.
Aku tidak ingin menjadikan kenangan ini berceceran.
Mewujudkannya dalam bentuk susunan bab demi bab berisi kisah kita nampaknya akan menjadi kisah romantis yang pernah aku alami. Maka izinkan aku membubuhkan sekisah demi sekisah kita sehingga menjadi sebuah balada cinta yang di dalamnya diiringi genderang cinta yang jatuh, dan bunyi biola memekakkan telinga hingga senarnya putus.
Aku mohon kerestuanmu. Aku kisahkan abadi cinta. Aku abadikan kisah cinta.
Maukah kamu mengizinkan aku?
Oka's Blog

Bebaskan Hati, Terbangkan


Beberapa orang menunggu, dan beberapa orang lainnya tak tahu sedang ditunggu.
Lantas salahkah dia jika dia terus berjalan ke depan? Semakin menjauh.
Orang yang jatuh cinta namun hanya menunggu, lebih sia-sia dari menggarami air laut. Jangan pernah salahkan orang yang ditunggu jika mengungkapkan perasaan saja tak mampu.
Kebesaran cinta tak bisa diukur dengan seberapa lama menunggu, tetapi seberapa berani menungkapkannya dengan tulus dan cara yang indah.

Cuma Satu Ketidakpastian


“Mencinta, harusnya layaknya dendam. Mesti berbalas.”
Beberapa orang pernah merindu hingga menangis.
Ingin memeluknya hingga sesak napas.
Semua semata karena tak ada balasan darinya. Jangankan balasan, tahu pun dia tidak. Jatuh cinta sendirian membuatmu kuat, memiliki tenaga layaknya monster, hampir tak terbatas.
Namun semuanya habis diserap penasaran, diserap prasangka yang dibangun sendiri, kemudian jumlahnya menjadi minus ketika persepsi baik yang kamu bangun bangun sendiri ternyata salah.
Berhentilah menebak-nebak. Melelahkan. Jika dia tak bisa memberikanmu kepastian. Mintalah. Rebut kepastianmu sendiri. Jangan biarkan hatimu kaududukkan di kursi yang bahkan kursi itu tak ingin diduduki, atau sudah ada yang menduduki hanya saja sedang pergi sejenak.
Bicara, maka semua penasaran akan sirna.
Karena cuma satu hal yang pasti, yaitu ketidakpastian.
Oka's Blog

Kamu, Jangan Pergi


Jika kamu pergi, senyum ini untuk siapa lagi? Lalu ke mana larinya lengkung bibir itu? Hanya menyelinap ke dalam pori-pori mimpi?
Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini? Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu? Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?
Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini? Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?

Maaf


Nila setitik rusak susu sebelanga.
Aku pernah berpikir keras bagaimana kalimat di atas bisa benar-benar merepresentasikan keadaan dalam kenyataannya. Aku selalu benci mengapa pengaruh negatif selalu lebih kuat dibanding yang positif.
Bagaimana mungkin nila yang hanya setitik itu bisa merusak susu sebelanga banyaknya? Tentunya tergantung kadar si nila itu sendiri. Namun yang aku tahu, keburukan sering kali lebih kuat. Contohnya orang terbaik yang pernah kamu kenal, sekali dia melakukan kesalahan/keburukan, kontan semua kebaikannya seakan luruh, sirna, sia-sia.
Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.”
Tentu saja hal itu diperlukan, agar apa? Agar kita menjadi hamba yang pemaaf, tidak melebihi sifat Tuhannya, namun berusaha mengikuti jalan-Nya. Namun masih ada yang kurang dari ungkapan tadi, mesti ditambah sebaliknya, “Ketika dia berbuat baik, ingatlah kesalahannya. Hanya agar kamu tetap waspada.
Ya, memang apa pun yang berlebihan, tidak baik. Seperti halnya memaafkan, dan membenci. Membencilah, marahlah, kecewalah dengan sewajarnya, agar kamu bisa dengan wajar memaafkan.
Oka's Blog

Hanya Sebuah Titik Dua dan Tutup Kurung



Foto: Racikan Kata
Pernahkah kamu mengenal seseorang yang punya pengaruh besar terhadap dirimu, bahkan terlalu besar? Aku, pernah.

Dendam yang Dititipkan pada Tuhan


“Aku sakit hati. Tunggu saja, karma akan membalasmu.”
Sepenggal kalimat tadi sering kita dengar di acara sinetron, atau terdengar dari mulut sendiri atau hati kecil kita.
Karma. Mungkin itu salah satu alasan yang membenarkan kita menjadi seorang pendendam, dengan meminta bantuan semesta, dalam kasus ini, Tuhan. Apakah Tuhan begitu pendendam dengan mengajarkan dendam kepada umat-Nya? Atau Dia hanya berlaku adil? Entah, yang aku tahu, nabi mengajarkan untuk mendoakan yang baik meskipun kepada orang yang berbuat jahat pada kita.
Namun kita hanya manusia biasa. Ya, itu alasan yang paling sering dilontarkan ketika kita tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjadi manusia yang luar biasa.
Ketika mendapatkan sesuatu yang buruk dari orang lain, kita sering memohon Tuhan ‘membalaskan dendam’ dengan berucap, “Biar Tuhan aja yang balas.”
Bagaimana jika perlakuan buruk itu merupakan balasan ‘dendam’ orang lain yang pernah kita sakiti pula di waktu sebelumnya, yang dia titipkan melalui Tuhan? Sekali lagi, entah.
“Mata harus dibayar dengan mata.” Seorang pendendam biasanya memiliki prinsip seperti itu, atau lebih buruk. Namun aku ingat apa kata Mahatma Gandhi.
“‘Mata dibayar dengan mata’ hanya akan membuat dunia (kamu) buta.”
Oka's Blog

Surat Rindu yang Tak Perlu Dibalas


Bagaimana mungkin pria dan wanita, dua makhluk yang saling bingung karena sifat lawan jenis masing-masing, bisa jatuh cinta?
Bagaimana mungkin pria dan wanita, yang konon berasal dari planet yang berjauhan, yaitu dari Mars dan Venus, bisa saling merindukan padahal sama-sama sedang berada di bumi?
Ah, pertanyaan klise itu memuakkan, memekakkan telinga. Namun apa yang lebih lumrah dari kalimat “aku rindu kamu”? Rindu yang tak berbalas. Setidaknya begitu bagiku.
Semua hal memang tak harus tersurat, tapi tak semua manusia memiliki kepekaan tinggi terhadap yang tersirat. Mulut-mulut itu berucap, “Tenang saja, dia juga pasti merindukanmu.”
Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Cuma kata itu yang terus-terusan dimentahkan pikiran melalui mulutku.

Belajar lagi

"Ah, hatiku jatuh padamu berkali-kali. Namun aku tidak menyerah. Layaknya balita yang sedang belajar berjalan, aku juga sedang belajar mencintaimu. Lebih tulus lagi."

Oka's Blog

Maaf, Aku tidak Sengaja*


Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri-curi pandang ketika aku bersama kamu. Dan ketika kamu melihat ke arahku, aku tidak sengaja membuang pandanganku sejauh-jauhnya, lebih jauh dari rekor lempar lembing yang pernah tercipta, hanya untuk tetap menjaga kamu tidak tahu aku sedang memandangmu.
Aku tidak sengaja merasa senang berada dalam satu momen bersamamu. Aku tidak sengaja mengharapkan kamu ada ketika kamu dan aku tidak dalam ruang dan waktu yang sama. Celingukanku membuktikannya.
Aku tidak sengaja berharap semua barang yang kupinjamkan padamu tidak kamu kembalikan sekaligus. Aku tidak sengaja berharap kamu meminjam satu barang lagi dariku setiap kamu mengembalikan barang lainnya. Semuanya tidak sengaja beralasan agar kita tetap bertemu.

Balasan untuk Jatuh Cinta Diam-Diam


Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.

Jadi, Mau Berlari Terus?


“Pernahkah kamu berlari dan terus berlari?
Kadang kita tak pernah menemukan lelah ketika berlari. Berlari (berusaha) meninggalkan kenyataan rasanya begitu menyenangkan sekaligus menakutkan, karena berkali-kali kenyataan jelas ada di depan kita.
Ketika rasa itu menghampiri benak dan pikiran, lama-kelamaan kamu akan menemukan kesia-siaan dalam sebuah “pelarian”. Semakin jauh kamu mencoba melarikan diri dari kenyataan, semakin dekat kenyataan denganmu.
Hingga akhirnya kelelahan menjadi kenyataan berikutnya yang menghampirimu. Ada sebuah pelajaran yang hampir kita lupakan setiap berlari. Kadang kita hanya terfokus pada seberapa cepat kita berlari dan seberapa jauh kita meninggalkan. Pernahkan kita berpikir kapan saatnya berjalan? Dan kapan waktu yang tepat untuk berhenti, mengistirahatkan 
diri
 hati ini?
Sayangnya kita sering mencoba berlari tanpa belajar berjalan terlebih dahulu, dan melupakan bagian terpenting, yaitu berhenti. Tak heran jika kamu terus terjatuh.”
Oka's Blog

Melangkah Seperti Jarum Detik


“Tolong beri aku waktu! Beri aku kesempatan.”
Kadang kita tak hentinya meminta waktu, meminta kesempatan lagi kepada orang lain, kepada semesta, bahkan kepada Tuhan. Sebuah kesalahan yang sudah kamu lakukan, jika itu diperbuat tanpa ada unsur kesengajaan, hanya mengikuti kata hati, dan itu salah, maka kamu pasti ingin memperbaikinya sepenuh hati.
Namun apa daya? Waktu itu sudah dirancang Tuhan dan dieksekusi semesta berputar searah jarum jam, atau perputaran jarum jam itu sendiri yang mengikuti arah berjalannya waktu. Entahlah, yang pasti waktu terus berjalan, ke depan. Kata “seandainya” takkan pernah habis terlintas dalam benak seseorang yang sudah melakukan kesalahan, tanpa ia sengaja. Kata tersebut sepertinya bergandengan dengan benda nista bernama penyesalan.

Aku Hanya Ingin Mencintai, Bukan Melukai


Mencinta adalah mengambil risiko tak dicintai kembali. Mencintai tanpa harus memiliki? Aku rasa hanya ada dalam dongeng. Setiap cinta, sedikit atau banyak, akan meminta kembali, meskipun hanya berupa senyuman bahwa dia cukup bahagia disajikan cinta walaupun tak punya cinta untuk membalas.
Mencintai diam-diam adalah sebuah keharusan menyiapkan diri mendapat balasan cinta diam-diam pula, atau penolakan diam-diam juga.

Hati Ini Menunggu


Lampu pada tulisan “Ruang Tunggu” itu mulai redup, satu-persatu sosok di dalamnya mulai melangkah keluar. Bukan meraih apa yang mereka tunggu-tunggu, melainkan melangkah keluar saja. Menyerah.
Aku tak kenal siapa mereka. Namun di bawah kerah kemeja sebelah kirinya tertulis “logika”. Beberapa sosok lainnya aku lupa jelasnya seperti apa, tetapi sepertinya mereka semua bersaudara. Kembar mungkin.
Di sini, di ruang ini, hanya aku yang tersisa. Sendiri. Aku sempat takut dan termakan bujuk rayu mereka yang pergi lebih dahulu. Aku bukan betah duduk di sini dan menunggu, hanya saja sesuatu yang aku tunggu lebih membuatku tak betah jika aku tinggalkan.
Duduk di ruangan sebesar ini sendiri, membuatku terlihat begitu rakus. Mengenyam semua waktu sendiri. Mendengarkan alunan detak detik melalui headset, tertegun dan tertunduk. Menunggu pintu yang berada beberapa langkah di sebelah kiriku terbuka dan sosok di baliknya berujar, “Berikutnya.”
Pada saat itulah aku akan bangkit dari tempat duduk ini, detak detik ini tak membuatku tuli karena aku mendengarkan melalui diri sendiri. Aku akan buka pintu itu dengan lembut, menyambut siluet dengan cahaya lebih terang di depannya sehingga sosoknya tak begitu jelas terlihat.
Oka's Blog

Sepi


Pagi ini aku terbangun lagi. Tidak ada yang berbeda. Masih aku terbangun sendiri, bukan kamu bangunkan sebagai pertanda hati itu terbuka lagi.
Aku tak mendapati satu halpun berbeda, kecuali perasaanmu. Kini sudah berbeda. Sejak kamu pergi, kursiku tak pernah menghadap jendela lagi, terlalu iri melihat burung bermain bersama air. Matahari seolah enggan menyapa lagi.
Kamu, buatlah yang akan duduk di kursi itu ceria lagi. Kembalilah.
Oka's Blog

Kepada Kamu, Tolong Bangunkan Aku


Kamu, yang masih terperangkap dalam kotak itu, kotak kenangan. Kotak Pandora yang tak pernah ingin kamu buka, tetapi sudah bisa membuatmu tersesat dengan hanya membayangkannya saja. Sejenak aku pikir akulah orang yang tepat menyelamatkanmu dari sana. Namun siapa orang paling sulit untuk ditolong? Orang yang tak mau ditolong.
Entahlah, ini antara kamu yang tak mau kutolong, atau malah kamu meminta tolong pada kenanganmu dari aku. Rasanya seperti tarik-menarik. Aku tarik kamu ke depan, tapi sepertinya kenanganmu lebih keras menarikmu ke belakang. Kadang aku melonggarkan genggamanku hanya demi menjaga tali antara aku, kamu, dan kenanganmu tak putus. Aku tak mau mendapati kamu terjatuh ke pusara kehampaan, tanpa aku. Di sisi lain, aku tak ingin kamu lepas.
Besok, ketika aku terbangun lagi, aku selalu penasaran. Sampai kapan kamu mau tinggal di sana? Aku sudah mengulurkan tangan, tangan penuh luka karena memperjuangkanmu.
Kamu, selalu menjadi sosok yang ingin kukibarkan di hati. Kuperjuangkan bebas dari rindu, apalagi sepi. Aku rela pasang badan menghadapi gengsi.
Kurasa, wajahmu terbuat dari racikan hujan pada jendela beserta embunnya. Dan jika aku melihatnya dalam sebuah perjalanan, tak ada rasa yang bisa menggambarkan selain kata.

Oka's Blog

Aku Hanya Mau Kamu. Salah?


Aku tak tau. Seakan memori ini terlalu berharga untuk diletakkan begitu saja, dalam kotak kenangan. Menjadi kotak Pandora yang tak boleh dibuka, tapi pasti senantiasa rasa penasaran terus menghantui dan ingin kubuka setiap saat.
Kata orang, ada garis tipis, sangat tipis, antara tulus dan bodoh. Entahlah, aku mungkin berada di tengahnya. Di garis sangat tipis, hanya saja aku tak tau mana yang di bawah, tulus atau bodoh. Sehingga jika pada akhirnya gravitasi cintamu membuat tempat kuberpijak tak mampu lagi menahan, aku akan jatuh ke lubang ketulusan yang gelap tak berujung, atau kubangan kebodohan yang menggelitik nadi dan memutus semua logika.
Aku hanya mau kamu. Salah? Tolong beri aku alasan. Aku tak tahan lagi diterjang jarum detik tanpamu. Jarum yang bahkan malaikat pun tak bisa hentikan. Tanpamu terlalu sakit rasanya.
Aku sudah mencintaimu tanpa hati. Hampir seluruhnya kau bawa pergi, dan sisanya aku makan sendiri.
Sakit, tak apa kau menyakitiku. Seperti apa yang pernah aku katakan. Tak apa aku disakiti, sebagaimanapun. Daripada aku menyakiti, karena menyakiti rasanya lebih menyakitkan, melihat orang yang dikasihi kesakitan. Biarkan aku duduk di persimpangan jalan sepi ini.
Tak ada petunjuk arah ke mana kamu pergi. Aku hanya ingin kembali.

Oka's Blog

Jumat, 06 Juli 2012

Kosong

Pindah itu ga gampang, ga segampang kita ngomongnya. Pindah itu harus masih ngurus ini itu, ga instan. Jadi wajar kalau pindah itu lama. Kalau mau pindah pasti kita nentuin target pindah kita kan? Gue udah coba itu, tapi gue gagal. Oh, tunggu tapi bukan berarti gue tetap disitu, walaupun gue belum dapet target pidah gue tapi gue ga gagal untuk pindah, gue cuma belum dapet target baru, gue cuma lagi kosong aja.

Jalan kedepan, sendirian.

Setelah kejadian "itu" gue seakan-akan berdiri ditengah-tengah jalan sendirian. Gue bingung gue harus kemana, gue harus jalan kebelakang lagi atau gue jalan kedepan. Beberapa bulan gue 'tetap' di situ, tetap ditengah-tengah itu sendirian, gue bener-bener gatau harus jalan kemana. Pikiran gue waktu itu gue pengen balik lagi kebelakang, tapi gue pikir lagi emang semuanya bisa gitu?E-N-G-G-A sama sekali, hal terbodoh gue adalah memilih jalan kebelakang. Akhirnya, gue lagi-lagi tetap di tengah-tengah itu. Setelah beberapa bulan, gue nyari orang yang bisa ngebantu gue jalan kedepan bareng-bareng sama gue tapi hasilnya gue ga nemuin orang yang bisa ngebantu gue jalan ke depan. Akhirnya gue tetep di tengah-tengah itu. Gue ngerasa capek ditengah-tengah gitu terus, akhirnya gue jalan kedepan dengan sendiri menikmati semuanya tanpa orang lain.